Pembelajaran Pendidikan Pancasila di MTsN 7 Bantul Berlangsung Penuh Emosi
Bantul (MTs N 7 Bantul) – Suasana berbeda tampak di kelas IX E MTsN 7 Bantul pada Kamis, 26 Februari 2026 pukul 12.40 WIB. Pada jam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, guru pengampu Bapak Eryanto Mahmudi menghadirkan strategi pembelajaran kreatif bertajuk “Tebak Tradisi dan Budaya” untuk menyampaikan materi tentang tradisi, kearifan lokal, serta budaya bangsa.
Pembelajaran Pendidikan Pancasila kali
ini mengangkat materi tradisi, kearifan lokal, dan budaya sebagai bagian
penting dari identitas nasional. Untuk memperdalam pemahaman siswa, guru
menerapkan strategi permainan edukatif “Tebak Tradisi dan Budaya”. Melalui
strategi ini, siswa diajak mengenali berbagai tradisi dan budaya Nusantara
dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan menantang.
Kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak
hanya mengetahui contoh tradisi dan budaya secara teori, tetapi juga mampu
memahami nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya, seperti gotong
royong, persatuan, toleransi, dan musyawarah.
Pembelajaran dipandu langsung oleh Bapak
Eryanto Mahmudi selaku guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Seluruh siswa
kelas IX E turut aktif dalam kegiatan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan 4–5 orang. Setiap
kelompok mendapatkan kesempatan tampil di depan kelas untuk memainkan permainan
tebak tradisi dan budaya.
Menurut Bapak Eryanto, metode ini
dipilih agar siswa lebih terlibat secara aktif. “Anak-anak akan lebih mudah
memahami materi ketika mereka belajar sambil bermain. Dengan strategi ini,
mereka belajar berpikir kritis sekaligus bekerja sama,” ungkapnya di sela
kegiatan.
Kegiatan pembelajaran ini berlangsung di
ruang kelas IX E MTsN 7 Bantul pada Kamis, 26 Februari 2026, tepat pukul 12.40
WIB. Meski dilaksanakan pada jam siang, suasana kelas tetap kondusif dan penuh
semangat. Siswa tampak antusias mengikuti jalannya permainan dari awal hingga
akhir.
Pembelajaran diawali dengan apersepsi
mengenai pentingnya menjaga tradisi dan budaya di tengah arus globalisasi. Guru
menjelaskan secara singkat konsep tradisi, kearifan lokal, dan budaya serta
kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila.
Selanjutnya, kegiatan inti dimulai
dengan strategi “Tebak Tradisi dan Budaya”. Setiap kelompok maju secara
bergiliran ke depan kelas. Dari setiap kelompok, siswa bertugas memberikan clue
atau satu kata kunci yang berkaitan dengan sebuah tradisi atau budaya tertentu.
Kata kunci tersebut harus mampu mengarahkan teman yang lain untuk menebak
jawaban yang dimaksud.
Sebagai contoh, ketika seorang siswa
memberikan kata kunci “Gerakan”, “Seni”, dan “makan”, teman lainnya menebak sebagai
tari piring. Kelompok lain memberikan kata kunci seperti “gotong”, “desa”, dan
“kerja bakti” yang kemudian ditebak sebagai tradisi gotong royong.
Setiap kelompok diberi batas waktu
tertentu untuk menebak jawaban. Jika berhasil menebak dengan tepat, mereka diperbolehkan
duduk. Suasana kelas pun menjadi hidup dengan sorak sorai dan diskusi singkat
antar anggota kelompok.
Setelah permainan selesai, guru mengajak
siswa merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan budaya yang
telah ditebak. Siswa diajak mengaitkan tradisi tersebut dengan sila-sila
Pancasila. Misalnya, tradisi gotong royong mencerminkan nilai persatuan dan
keadilan sosial, sementara tradisi musyawarah desa mencerminkan nilai demokrasi
dan kebijaksanaan.
Melalui strategi ini, siswa tidak hanya
mengingat nama tradisi, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di
dalamnya. Pembelajaran pun terasa lebih bermakna karena melibatkan partisipasi
aktif seluruh siswa.
Kegiatan ditutup dengan penegasan dari
guru mengenai pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa.
Bapak Eryanto menekankan bahwa memahami tradisi bukan sekadar untuk diketahui,
tetapi juga untuk dijaga dan diwariskan.
Pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IX E ini menjadi contoh bahwa materi tentang tradisi, kearifan lokal, dan budaya dapat disampaikan secara kreatif dan menyenangkan. Melalui strategi “Tebak Tradisi dan Budaya”, siswa MTsN 7 Bantul tidak hanya belajar mengenal budaya bangsa, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab sebagai generasi penerus Indonesia.(ery)



Tidak ada komentar
Posting Komentar