Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Pembelajaran Pendidikan Pancasila di MTsN 7 Bantul Berlangsung Penuh Emosi

    Bantul (MTs N 7 Bantul) – Suasana berbeda tampak di kelas IX E MTsN 7 Bantul pada Kamis, 26 Februari 2026 pukul 12.40 WIB. Pada jam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, guru pengampu Bapak Eryanto Mahmudi menghadirkan strategi pembelajaran kreatif bertajuk “Tebak Tradisi dan Budaya” untuk menyampaikan materi tentang tradisi, kearifan lokal, serta budaya bangsa.



    Pembelajaran Pendidikan Pancasila kali ini mengangkat materi tradisi, kearifan lokal, dan budaya sebagai bagian penting dari identitas nasional. Untuk memperdalam pemahaman siswa, guru menerapkan strategi permainan edukatif “Tebak Tradisi dan Budaya”. Melalui strategi ini, siswa diajak mengenali berbagai tradisi dan budaya Nusantara dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan menantang.

    Kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya mengetahui contoh tradisi dan budaya secara teori, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, persatuan, toleransi, dan musyawarah.

    Pembelajaran dipandu langsung oleh Bapak Eryanto Mahmudi selaku guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Seluruh siswa kelas IX E turut aktif dalam kegiatan tersebut.

    Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan 4–5 orang. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan tampil di depan kelas untuk memainkan permainan tebak tradisi dan budaya.

    Menurut Bapak Eryanto, metode ini dipilih agar siswa lebih terlibat secara aktif. “Anak-anak akan lebih mudah memahami materi ketika mereka belajar sambil bermain. Dengan strategi ini, mereka belajar berpikir kritis sekaligus bekerja sama,” ungkapnya di sela kegiatan.

    Kegiatan pembelajaran ini berlangsung di ruang kelas IX E MTsN 7 Bantul pada Kamis, 26 Februari 2026, tepat pukul 12.40 WIB. Meski dilaksanakan pada jam siang, suasana kelas tetap kondusif dan penuh semangat. Siswa tampak antusias mengikuti jalannya permainan dari awal hingga akhir.

    Pembelajaran diawali dengan apersepsi mengenai pentingnya menjaga tradisi dan budaya di tengah arus globalisasi. Guru menjelaskan secara singkat konsep tradisi, kearifan lokal, dan budaya serta kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila.

    Selanjutnya, kegiatan inti dimulai dengan strategi “Tebak Tradisi dan Budaya”. Setiap kelompok maju secara bergiliran ke depan kelas. Dari setiap kelompok, siswa bertugas memberikan clue atau satu kata kunci yang berkaitan dengan sebuah tradisi atau budaya tertentu. Kata kunci tersebut harus mampu mengarahkan teman yang lain untuk menebak jawaban yang dimaksud.

    Sebagai contoh, ketika seorang siswa memberikan kata kunci “Gerakan”, “Seni”, dan “makan”, teman lainnya menebak sebagai tari piring. Kelompok lain memberikan kata kunci seperti “gotong”, “desa”, dan “kerja bakti” yang kemudian ditebak sebagai tradisi gotong royong.

    Setiap kelompok diberi batas waktu tertentu untuk menebak jawaban. Jika berhasil menebak dengan tepat, mereka diperbolehkan duduk. Suasana kelas pun menjadi hidup dengan sorak sorai dan diskusi singkat antar anggota kelompok.

    Setelah permainan selesai, guru mengajak siswa merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan budaya yang telah ditebak. Siswa diajak mengaitkan tradisi tersebut dengan sila-sila Pancasila. Misalnya, tradisi gotong royong mencerminkan nilai persatuan dan keadilan sosial, sementara tradisi musyawarah desa mencerminkan nilai demokrasi dan kebijaksanaan.

    Melalui strategi ini, siswa tidak hanya mengingat nama tradisi, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran pun terasa lebih bermakna karena melibatkan partisipasi aktif seluruh siswa.

    Kegiatan ditutup dengan penegasan dari guru mengenai pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya bangsa. Bapak Eryanto menekankan bahwa memahami tradisi bukan sekadar untuk diketahui, tetapi juga untuk dijaga dan diwariskan.

    Pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IX E ini menjadi contoh bahwa materi tentang tradisi, kearifan lokal, dan budaya dapat disampaikan secara kreatif dan menyenangkan. Melalui strategi “Tebak Tradisi dan Budaya”, siswa MTsN 7 Bantul tidak hanya belajar mengenal budaya bangsa, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab sebagai generasi penerus Indonesia.(ery)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728