MGMP IPA MTs Bantul Bekali Guru Teknik Membimbing Riset, Dorong Lahirnya Murid Inovatif dan Berprestasi
Bantul (MTsN 7 Bantul) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA MTs Kabupaten Bantul menyelenggarakan Workshop Pembimbingan Riset bagi guru IPA MTs se-Kabupaten Bantul pada Rabu (22/7/2026) pukul 12.30–15.30 WIB di Hall MTsN 7 Bantul. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam membimbing penelitian ilmiah murid sekaligus memperkuat budaya riset di lingkungan madrasah.
Workshop menghadirkan Oki Osaka Herlinawati, guru
MTsN 4 Bantul, sebagai narasumber. Sebelum penyampaian materi, kegiatan dibuka
oleh Kepala MTsN 7 Bantul, Hidayat, selaku tuan rumah.
Dalam sambutannya, Hidayat menyampaikan apresiasi
atas kepercayaan MGMP IPA MTs Kabupaten Bantul yang kembali memilih MTsN 7
Bantul sebagai lokasi kegiatan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila
fasilitas yang disediakan belum sepenuhnya memenuhi harapan peserta.
"Selamat datang kepada seluruh peserta
Workshop Pembimbingan Riset MGMP IPA MTs Kabupaten Bantul. Kami mohon maaf
apabila masih terdapat keterbatasan dalam penyediaan fasilitas. Terima kasih
atas kepercayaan yang diberikan kepada MTsN 7 Bantul sebagai tuan rumah. Semoga
kehadiran MGMP IPA di madrasah ini membawa keberkahan dan menjadi ikhtiar
bersama untuk memajukan pendidikan madrasah," ujar
Hidayat.
Lebih lanjut, Hidayat menegaskan bahwa pembelajaran
IPA memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, IPA
menjadi kepanjangan tangan mata pelajaran Al-Qur'an Hadis dalam mengajak murid
memahami tanda-tanda kebesaran Allah melalui alam semesta. Hal tersebut sejalan
dengan pencanangan Ecotheology oleh Menteri Agama yang mendorong tumbuhnya
kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari implementasi ajaran agama.
Ia juga memberikan apresiasi kepada MGMP IPA MTs
Kabupaten Bantul yang dinilai aktif mengembangkan kompetensi guru. Menurutnya,
keberhasilan MGMP IPA memperoleh pendanaan block grant sebanyak dua kali
menjadi bukti nyata semangat kolaborasi dan inovasi yang terus dikembangkan
dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di madrasah.
Pada sesi materi, Oki Osaka Herlinawati menjelaskan
bahwa riset merupakan proses mencari solusi atas suatu permasalahan melalui
pengamatan, pengumpulan data, analisis, dan pembuktian secara sistematis
sehingga menghasilkan pengetahuan atau inovasi yang bermanfaat. Ia menekankan
bahwa dalam pembelajaran IPA, kegiatan riset merupakan implementasi nyata dari
metode ilmiah yang meliputi pengamatan, perumusan masalah, penyusunan
hipotesis, eksperimen, analisis data, hingga penarikan kesimpulan.
"Riset tidak hanya tentang menemukan jawaban
yang benar, tetapi bagaimana menemukan jawaban yang dapat dibuktikan melalui
data. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting sebagai pembimbing yang
mampu mengarahkan murid berpikir ilmiah, kritis, dan kreatif," ungkap
Oki Osaka Herlinawati.
Dalam paparannya, narasumber juga mengajak peserta
mengidentifikasi berbagai tantangan dalam membimbing riset di madrasah, antara
lain kesulitan murid menentukan ide penelitian, rendahnya minat terhadap
kegiatan riset, keterbatasan waktu pembimbingan, minimnya sarana laboratorium,
serta keterbatasan pendanaan. Namun demikian, berbagai tantangan tersebut dapat
diubah menjadi peluang melalui pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai objek
penelitian, mengikuti berbagai kompetisi riset, dan memanfaatkan teknologi
digital sebagai sumber referensi.
Selain itu, Oki menjelaskan bahwa karya riset yang
berpeluang meraih prestasi hendaknya memenuhi enam kriteria utama, yaitu
orisinal, inovatif, berdampak, berbasis data, layak diterapkan, dan
berkelanjutan (sustainable). Ia juga membagikan berbagai strategi menemukan ide
penelitian melalui observasi lingkungan, pendekatan ATM (Amati, Tiru,
Modifikasi), brainstorming bersama murid, analisis isu lokal maupun global,
pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta
penggalian potensi kearifan lokal.
Workshop ini diselenggarakan untuk meningkatkan
kompetensi guru IPA MTs dalam membimbing penelitian ilmiah murid, memberikan
pemahaman mengenai metodologi penelitian sederhana sesuai jenjang MTs,
mengembangkan keterampilan guru dalam menyusun proposal, instrumen, dan laporan
penelitian, serta meningkatkan kemampuan membimbing murid mengikuti berbagai
kompetisi riset dan karya ilmiah. Di samping itu, kegiatan ini juga mendorong
implementasi pembelajaran berbasis riset dan Project Based Learning (PjBL),
memperkuat jejaring kolaborasi antaranggota MGMP IPA, serta menghasilkan guru
pembimbing riset yang profesional sehingga mampu melahirkan murid yang
inovatif, kritis, kreatif, dan berprestasi.
Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh
antusiasme. Para peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta
mengikuti sesi brainstorming untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan di
lingkungan sekolah yang berpotensi dikembangkan menjadi topik penelitian. Pada
akhir kegiatan, setiap peserta menyusun rancangan awal penelitian sebagai
bentuk implementasi materi yang telah diperoleh.
Melalui workshop ini, MGMP IPA MTs Kabupaten Bantul berharap budaya riset semakin berkembang di lingkungan madrasah. Guru tidak hanya menjadi fasilitator pembelajaran, tetapi juga pembimbing yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir ilmiah, serta semangat berinovasi pada murid sehingga lahir generasi madrasah yang unggul, adaptif, dan mampu berprestasi dalam berbagai ajang penelitian ilmiah.(Ida)



Tidak ada komentar
Posting Komentar