Bukan Sekadar Slogan, Hasil Kebun Adiwiyata MTs Negeri 7 Bantul Dipanen dan Dinikmati Bersama
Bantul (MTsN 7 Bantul) – Menjadi Madrasah Adiwiyata bukan sekadar memasang label atau memperindah lingkungan madrasah. Di MTs Negeri 7 Bantul, semangat peduli lingkungan diwujudkan hingga pada hal sederhana yang dapat dirasakan bersama. Jumat (14/08/2026) siang, hasil kebun Adiwiyata madrasah berupa cabai, tomat, dan berbagai tanaman lainnya dipanen, diolah, kemudian dinikmati bersama oleh guru dan pegawai MTs Negeri 7 Bantul.
Hasil
panen tersebut diolah di dapur Tata Usaha MTs Negeri 7 Bantul menjadi hidangan
sayur sop yang memanfaatkan sejumlah hasil kebun Adiwiyata madrasah. Tidak
hanya itu, hasil kebun juga dimanfaatkan sebagai bahan sambal yang turut
melengkapi hidangan makan bersama.
Suasana
semakin terasa hangat karena kegiatan makan bersama tersebut menjadi hidangan
bagi para guru dan pegawai setelah sejak pagi melaksanakan berbagai aktivitas,
termasuk bergotong royong menghias dan menata lingkungan madrasah dalam rangka
menyambut Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
Kepala
Tata Usaha MTs Negeri 7 Bantul, Merry Kristiana Dessi, mengatakan bahwa hasil
kebun Adiwiyata kali ini tidak berhenti pada kegiatan panen semata. Hasil
tersebut justru diolah menjadi makanan yang dapat dinikmati bersama oleh warga
madrasah.
“Adiwiyata
bagi kami bukan hanya tentang menanam kemudian selesai. Ada proses yang harus
kita rawat bersama, mulai dari menanam, merawat, memanen, hingga bagaimana
hasilnya bisa memberikan manfaat. Hari ini hasil panen dari kebun Adiwiyata
kami dapat kami hidangkan menjadi sayur, bahkan bahan sambal yang kita nikmati
bersama,” ujar Merry.
Menurutnya,
pemanfaatan hasil kebun tersebut menjadi bukti sederhana bahwa program
Adiwiyata dapat memberikan manfaat nyata sekaligus membangun kebersamaan di
lingkungan madrasah.
“Yang
paling penting bukan hanya apa yang kita panen, tetapi nilai yang kita bangun
bersama. Ketika guru dan pegawai ikut merawat lingkungan, kemudian hasilnya
bisa dinikmati bersama, di situ ada pembelajaran tentang kepedulian,
kemandirian, gotong royong, sekaligus rasa syukur atas apa yang telah kita
usahakan,” lanjutnya.
Merry
menambahkan bahwa budaya peduli lingkungan perlu dibangun melalui kebiasaan
nyata. Dengan demikian, program Adiwiyata tidak berhenti sebagai kegiatan
seremonial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga madrasah.
“Semoga
kebiasaan seperti ini terus kita jaga. Madrasah yang bersih, hijau dan
produktif tentu tidak lahir dalam sehari. Dibutuhkan kepedulian dan kebersamaan
seluruh warga madrasah. Kalau kita rawat bersama, insyaallah lingkungan
madrasah akan memberikan manfaat kembali kepada kita semua,” ungkapnya.
Panen
hasil kebun Adiwiyata tersebut kemudian menjadi bagian dari hidangan makan
bersama. Nampak guru dan pegawai MTs Negeri 7 Bantul menikmati sayur sop dan
hidangan lainnya yang sebagian bahan dasarnya berasal dari kebun madrasah
sendiri.
Momen
sederhana tersebut sekaligus menghadirkan suasana guyup rukun di antara civitas
MTs Negeri 7 Bantul. Setelah bersama-sama bekerja menata dan menghias madrasah
menyambut bulan kemerdekaan, mereka kemudian duduk bersama menikmati hasil dari
lingkungan yang selama ini dirawat bersama.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat Adiwiyata dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: menanam, merawat, memanen, memanfaatkan, hingga berbagi. Dari kebun madrasah, tumbuh bukan hanya tanaman, tetapi juga kepedulian, kemandirian, gotong royong, dan kebersamaan seluruh warga MTs Negeri 7 Bantul.(riza)



Tidak ada komentar
Posting Komentar