Kelas VIII B MTsN 7 Bantul Praktik Ecoprint, Dukung Program Adiwiyata melalui Karya Ramah Lingkungan
Bantul (MTsN 7 Bantul) — Pembelajaran kokurikuler Seni Budaya kelas VIII B MTsN 7 Bantul pada Jumat (25/9/2026) diisi dengan praktik membuat karya ecoprint sebagai salah satu bentuk pembelajaran berbasis lingkungan sekaligus mendukung program Adiwiyata MTsN 7 Bantul. Kegiatan dilaksanakan di Hall MTsN 7 Bantul karena proses pembuatan ecoprint membutuhkan area yang cukup luas untuk membentangkan kain.
Ecoprint
merupakan teknik membuat motif dan warna pada kain dengan memanfaatkan bentuk
serta pigmen alami dari berbagai jenis daun dan bunga. Melalui kegiatan ini,
peserta didik tidak hanya belajar berkarya seni, tetapi juga dikenalkan pada
pemanfaatan bahan alam yang ramah lingkungan.
Pada
tahap persiapan, masing-masing peserta didik terlebih dahulu membawa kain mori
primisima untuk direndam di rumah menggunakan larutan tawas dan air. Setelah
proses perendaman, kain diangin-anginkan hingga kering sebelum digunakan dalam
praktik di madrasah.
Pada
praktik di Hall MTsN 7 Bantul, peserta didik membentangkan kain di atas plastik
wrap. Daun dan bunga kemudian ditata pada sebagian sisi kain secara menyebar
dan merata sesuai komposisi yang diinginkan. Setelah penataan selesai, sisi
kain lainnya ditumpangkan sehingga daun dan bunga berada di antara dua lapisan
kain.
Selanjutnya,
peserta didik memukul permukaan kain secara perlahan menggunakan palu kayu.
Pukulan ringan tersebut bertujuan membantu mengeluarkan pigmen alami dari daun
dan bunga sehingga bentuk serta warnanya berpindah ke permukaan kain.
Setelah
proses pemukulan selesai, kain kemudian dilipat dan digulung hingga rapat dan
berukuran lebih kecil. Gulungan tersebut dibungkus menggunakan plastik wrap,
kemudian diikat menggunakan tali rafia agar tetap rapat. Kain yang telah
selesai diproses dibawa pulang oleh masing-masing peserta didik untuk dikukus
di rumah.
Praktik
ecoprint ini merupakan tugas kokurikuler yang diberikan secara individu.
Karena keterbatasan waktu dan tahapan praktik yang membutuhkan pendampingan,
pelaksanaan pada pertemuan kali ini diikuti oleh 16 peserta didik yang
melakukan praktik secara langsung, sementara 16 peserta didik lainnya membantu
proses pengerjaan. Pada pertemuan berikutnya, kelompok peserta didik akan
bergantian sehingga seluruh siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk
melakukan praktik.
Peserta
didik tampak antusias mengikuti kegiatan. Bagi sebagian besar siswa, membuat ecoprint
merupakan pengalaman pertama. Mereka terlihat bersemangat memilih daun dan
bunga, menyusun komposisi motif, hingga mencoba teknik memukul kain dengan palu
kayu.
Selama
kegiatan berlangsung, guru Seni Budaya Apriliya Nur Muti'ah mendampingi peserta
didik dengan berkeliling dari satu siswa ke siswa lainnya. Guru memberikan
arahan, memperagakan tahapan pembuatan, serta membantu peserta didik ketika
mengalami kesulitan dalam menata bahan maupun melakukan proses pemukulan.
Menurut
Apriliya, kegiatan ecoprint memberikan pengalaman belajar yang tidak
hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga menanamkan kepedulian peserta
didik terhadap lingkungan.
“Melalui
praktik ecoprint ini, anak-anak belajar bahwa bahan-bahan yang ada di
sekitar kita dapat dimanfaatkan menjadi karya seni yang indah dan bernilai
guna. Mereka tidak hanya belajar teknik berkarya, tetapi juga belajar mengenali
potensi alam, menjaga lingkungan, bekerja dengan teliti, dan menghargai proses.
Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa berkarya seni juga
dapat dilakukan dengan cara yang lebih ramah lingkungan,” ungkap Apriliya.
Ia
menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan
pembelajaran Seni Budaya dengan program Adiwiyata yang sedang dikembangkan di
MTsN 7 Bantul.
“Ecoprint
sangat relevan dengan semangat Adiwiyata karena memanfaatkan daun dan bunga
sebagai sumber motif dan warna alami. Anak-anak diajak melihat lingkungan bukan
hanya sebagai sesuatu yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sumber inspirasi
untuk berkarya tanpa harus bergantung pada bahan-bahan yang berdampak besar
terhadap lingkungan,” jelasnya.
Karya
yang dihasilkan nantinya akan dikembangkan menjadi pakaian yang digunakan oleh
masing-masing peserta didik. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak
berhenti pada kegiatan praktik, tetapi menghasilkan produk seni yang memiliki
nilai fungsi sekaligus menjadi bentuk nyata pemanfaatan bahan alam.
Kegiatan
ini memiliki beberapa tujuan, antara lain mengembangkan kreativitas dan
keterampilan seni peserta didik, mengenalkan teknik ecoprint, melatih
ketelitian dan kesabaran dalam proses berkarya, serta menumbuhkan kepedulian
terhadap pemanfaatan bahan alam secara bijaksana. Selain itu, peserta didik
memperoleh pengalaman mengolah bahan sederhana yang tersedia di lingkungan
menjadi karya seni yang bernilai estetis dan fungsional.
Dari
sisi lingkungan, ecoprint menjadi salah satu alternatif berkarya dengan
memanfaatkan bahan alami berupa daun dan bunga. Peserta didik diajak memahami
bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi
seni. Hal ini sejalan dengan semangat Adiwiyata, yaitu membangun kepedulian dan
budaya warga sekolah terhadap perlindungan serta pengelolaan lingkungan hidup.
MTsN 7
Bantul akan maju penilaian sebagai sekolah Adiwiyata Nasional. Oleh karena itu,
berbagai kegiatan pembelajaran di madrasah terus diarahkan agar memiliki
keterkaitan dengan upaya membangun budaya peduli dan berwawasan lingkungan.
Praktik ecoprint dalam pembelajaran kokurikuler Seni Budaya menjadi
salah satu bentuk konkret integrasi pendidikan seni dengan kepedulian terhadap
lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya menghasilkan karya berupa kain ecoprint, tetapi juga membawa pulang pengalaman dan nilai penting: bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk dari cara memilih bahan dan proses dalam menciptakan sebuah karya seni.(muti_Art)

.jpeg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar