Adiwiyata Tumbuh Melalui Riset: Tim Riset MTsN 7 Bantul Telusuri Potensi Keanekaragaman Hayati Daun Kepel dan Biji Mimba Untuk Bioinsektisida
Bantul (MTsN 7 Bantul) — Semangat menjaga lingkungan melalui sains terus digaungkan MTsN 7 Bantul. Tidak hanya belajar tentang keanekaragaman hayati melalui teori, Tim Riset MTsN 7 Bantul yang terdiri dari Zaskia Nathania Thalita Rachman dan Zulfanida Tri Nur Agustin menghadirkan pengalaman nyata melalui penelitian di Laboratorium IPA dengan mengamati perkembangan Aedes aegypti sekaligus menguji potensi bahan alam sebagai bioinsektisida.
Rangkaian penelitian dimulai pada Kamis-Jumat, 13-21
Agustus 2026, di Laboratorium IPA MTsN 7 Bantul. Kegiatan diawali dengan
pengamatan terhadap telur Aedes aegypti hingga perkembangan hingga mencapai
instar III. Tim riset memastikan setiap tahapan berlangsung dengan baik dan
data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Setiap perkembangan dipantau
secara berkala. Setiap perubahan fisik dilakukan pengamatan dan pencatatan
secara teliti. Larva Aedes aegypti yang telah mencapai fase sesuai
kebutuhan penelitian diberikan perlakuan menggunakan bioinsektisida berbahan
ekstrak daun kepel (Stelechocarpus burahol) dan biji mimba (Azadirachta
indica A. Juss.).
Pemanfaatan dua bahan alam tersebut menjadi salah satu
bentuk upaya menghadirkan alternatif pengendalian organisme pengganggu yang
berbasis sumber daya hayati. Penelitian ini sekaligus mengajak murid untuk
melihat bahwa keanekaragaman hayati di sekitar dapat menjadi sumber pengetahuan
dan inovasi apabila dikaji secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Seluruh proses penelitian mendapatkan bimbingan dan arahan
dari Irkhas Aliyah dan Winarsih sebagai guru pendamping riset. Irkhas
menyatakan bahwa data yang diperoleh dari rangkaian pengamatan tersebut
selanjutnya menjadi bahan penting untuk menganalisis perkembangan larva dan
respons terhadap perlakuan bioinsektisida ekstrak daun kepel dan biji mimba.
Menurut
Winarsih selaku guru pendamping riset, penelitian ini memiliki keterkaitan erat
dengan semangat Adiwiyata, khususnya dalam aspek keanekaragaman hayati. “Murid
diajak mengenali, mengamati, dan memanfaatkan potensi biodiversitas secara
bijak melalui pendekatan ilmiah. Daun kepel dan biji mimba yang digunakan dalam
penelitian menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati dapat dipelajari untuk
menghasilkan inovasi yang memiliki nilai edukatif dan ekologis. Sementara itu,
kegiatan pengamatan Aedes aegypti memberikan pengalaman kepada murid
untuk memahami salah satu organisme yang memiliki hubungan dengan lingkungan
dan kesehatan Masyarakat,” jelasnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan data, penelitian ini menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan, berpikir kritis, teliti, bertanggung jawab, dan mencintai keanekaragaman hayati. Tim Riset MTsN 7 Bantul membuktikan bahwa gerakan Adiwiyata tidak berhenti pada penghijauan dan kebersihan lingkungan. Adiwiyata juga dapat tumbuh melalui riset, inovasi, dan keberanian generasi muda untuk mengungkap potensi alam secara ilmiah.(Wien)



Tidak ada komentar
Posting Komentar